Pages

Nikmat yang terkadang disepelekan


Nikmatnya Bernafas
          “nikmat”, sebuah kata yang mungkin selalu dirasakan oleh manusia, atau mungkin makhluk selain manusia. Nikmat identik dengan sesuatu yang menyenangkan atau membahagiakan. Siapa yang tidak suka dengan “nikmat”?. Semua orang pasti suka dengan nikmat. Baik itu nikmat kesehatan, nikmat rezeki, naik jabatan, naik gaji, atau nikmatnya ketika kita menyantap makanan favorit kita dan lain-lain yang kita anggap sebagai kenikmatan.
          Begitu banyak nan melimpah kenikmatan yang berada di sekitar kita. Atau bahkan yang kini melekat di dalam tubuh kita yang terkadang tanpa kita sadari karena kita sering menyepelekannya.
           Namun, dari nikmat yang kita anggap “sepele” itu justru menjadi penopang hidup kita. Contoh mudah yaitu nafas atau oksigen yang kita hirup setiap saat. Oksigen yang selalu menghampiri paru-paru kita adalah sebagian kecil dari nikmat Allah yang hingga kini masih kita rasakan. Dengan oksigen tersebut nyawa kita masih terus bersambung. Kehidupan kita masih berjalan hingga kini. Tidak ada makhluk hidup yang tidak memerlukan jenis udara yang satu ini. Tak akan ada kehidupan tanpa udara yang menyertainya. Namun, tahukah kita atau sadarkah kita semua udara segar yang disebut oksigen tersebut kita dapatkan secara cuma-cuma alias gratis? Pernahkah Allah swt meluncurkan dari langit sebuah kertas tagihan atas oksigen yang kita hirup selama bertahun-tahun? Atau apakah kita perlu membeli “isi ulang” oksigen ketika kita membutuhkannya?. Tentulah jawaban kita menegaskan TIDAK. Namun, bagaimana seandainya Allah memang mematok harga untuk setiap oksigen yang kita hirup? Tentu saya yakin tidak semua manusia mampu untuk membayar setiap kali kita menghirup oksigen. Hal ini saya tulis karena teringat ketika kakak ipar saya tengah mengalami gawat darurat ketika dadanya begitu sesak tanpa mampu untuk bernafas seperti biasanya. Kala itu suasana begitu kalut. Belum lagi hari sudah larut malam. Terbersit dalam benak saya suatu perasaan takut jika kakak saya tersebut akan “pulang” kepada penciptanya. Namun, Alhamdulillah karena rumah sakit yang selalu siap siaga 24 jam, kakak saya tersebut dapat tertolong dengan bantuan oksigen segar atau murni yang melekat di hidung dan mulutnya selama kurang lebih 30 menit. Puji syukur keadaan pun semakin membaik. Namun, dari oksigen yang sudah terpakai selama 30 menit tersebut ternyata memiliki biaya yang tidak murah (menurut saya). Dari situlah saya berpikir bahwa itu hanya 30 menit kita menghirup oksigen dari sebuah rumah sakit dan tentunya ada biaya untuk itu. Bagaimana biaya atas udara yang kita hirup dan kita hembuskan secara sia-sia selama ini? Jika seandainya Allah menagih atas harga oksigen kita tersebut.  Saya teringat sebuah kata yang berasal dari film Indonesia, yaitu “sesuatu akan terasa bernilai ketika ia tidak ada bersama kita”. Begitulah memang, ketika nafas yang kita hirup saat ini mungkin dari sebagian kita termasuk saya, akan menyia-nyiakan nafas tersebut. Namun ketika kesehatan kita dicabut oleh “Yang memberi kesehatan”, maka saat itulah kita merasakan bahwa satu kali hembusan begitu bernilai untuk kehidupan kita.
          Hal itu barulah nafas yang saat ini kita bicarakan. Bagaimana dengan nikmat lainnya yang berada di sekitar kita? yang sangat dekat dengan kita. sungguh, kita tak akan mampu menghitung nikmat Allah yang diberikan kepada kita bahkan jika seandainya lautan dijadikan tinta untuk menghitung nikmat Allah. Namun, tentunya tugas kita bukan untuk menghitung-hitung nikmat Allah, tetapi berusaha sebaik mungkin untuk mensyukurinya. Memanfaatkan setiap hembusan nafas yang kita hirup saat ini dengan selalu melakukan yang terbaik dalam hidup.
          Kita mungkin bukan makhluk yang sempurna dari kecacatan alias kesalahan atau kekhilafan yang kita lakukan. Karena sebagai makhluk yang selalu berada dalam rel kesalahan, maka sangat mustahil bagi kita untuk selalu melakukan yang baik dalam setiap nafas kita. Bahkan seorang Nabi pun pernah melakukan kesalahan apalagi kita yang hanya manusia biasa yang setiap hari pasti melakukan dosa, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan kebaikan. Karena kemampuan manusia tentunya memiliki kadarnya masing-masing. Intinya adalah melalui tulisan ini saya berharap pada diri saya sendiri atau mungkin pembaca sekalian agar selalu memelihara sikap syukur kita untuk segala nikmat yang kita rasakan, baik itu yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Karena Allah swt menjanjikan bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya dan siapa yang kufur (ingkar) atas nikmat-Nya, maka adzab (siksa) Allah swt sangatlah pedih. Semua itu akan bermuara kepada perilaku dan sikap takwa kita kepada Sang Pencipta yang semakin meningkat.
Semoga bermanfaat……..


2 komentar:

Deindra mengatakan...

betul sob, memang kadang2 kita lupa untuk bersyukur, ketika sakit, baru merasakan mahalnya oksigen, posting yg bermanfaat..salam.

Basyir Accendio mengatakan...

Thanks buat komentarnya..
semoga kita dapat melakukan "aji mumpung" dalam hidup. Mumpung lagi sehat, mumpung lagi ada kesempatan, mumpung selagi kita bisa tuk melakukan yang baik-baik. salam kenal juga...

Poskan Komentar