Pages

Hilang

          Ku ukir kalimat-kalimat sederhana ini bersama rintik hujan yang mengelitik manja bumi yang gersang. Hujan adalah rahmat… begitulah Tuhan berfirman… ku sebut “Tuhan” karena ku harap tulisan ini akan mengalir tanpa mengenal siapa dan apa agama mereka. Agak tertawa ku rasa dalam hati, ketika aku tak menjumpai tujuan untuk apa aku mengurai kata-kata ini. Yang jelas, hidup terlalu rumit untuk sekedar ku rangkai dengan kata. Aku hanya ingin ada seseorang selain Tuhan yang mengetahui tentang sesuatu yang berada di balik jubah kehidupanku.

“Hilang”, mungkin sebuah kata bagaikan mimpi buruk yang tak ingin menjadi nyata bagi sebagian kita, manusia. kehilangan, terkadang membuat jiwa-jiwa meronta pada takdir. Air mata- air mata mengalir deras tanpa terbendung. Hati terkoyak oleh hawa panas ketidakadilan. Kau, aku, ia, mereka, kita semua mungkin pernah atau kerapkali disambangi oleh “kehilangan”. Ketika “ikhlas” menjauh dari kita saat “kehilangan”, maka merontalah ia, menangislah ia, mengoyak hatinya sendiri yang telah kelam oleh rasa ketidakadilan, dan hanya sanggup menghujani sang waktu dengan murka dan wajah merah padamnya. Aku pun terseok di antara hawa pengap dunia yang menurutku sudah semakin sempit ketika “kehilangan” itu begitu mendera. Ku caci maki Tuhan, ku murkai masa lalu, ku ludahi segalanya yang ku lihat, lalu aku terjerembab dalam sebuah sumur penyesalan… sumur itu begitu dalam, begitu gelap, tak ada udara apalagi cahaya. Sesaat kurasakan sumur itu tanpa dasar ketika aku terjatuh di dalamnya, kurasakan begitu panjang lorong gelap itu…
          Lalu sesuatu menyadarkanku…
Ia begitu sejuk. Sangat sejuk hingga dahagaku hilang tanpa aku meneguk segelas air. Peluhku hilang tanpa harus aku menanti hembusan angin yang membelai pori-pori. Begitu nyaman tanpa harus aku bersandar di sebuah ranjang. Aku terbangun dengan raga yang carut marut. Segera ku basuh wajah hina ini dengan hempasan air wudhu, ku rekatkan dahi pada sajadah. Ku tundukkan kepala yang terkadang dihinggapi rasa sombong dan merasa besar, yang ternyata begitu kecil bagikan setetes air di tengah lautan. Ku pejamkan mata. Berharap bertemu dengan sumber “sejuk” itu. Sejenak aku menyelam pada bathin yang terlanjur keruh karena amarah, dan ingin ku jernihkan dengan nama-Nya. Aku pun seolah bertemu dengan-Nya, meski hanya melalui firman-Nya. Dia berfirman “Allah tempat bergantung segala sesuatu”. Aku terhenyak dan menyengat bathinku yang tengah terlelap dalam keputusasaan. Sepasang kaki ini pun kembali melangkah di tengah semrawutnya kehidupan fana ini. Meski seolah separuh jiwaku pergi……..

0 komentar:

Poskan Komentar