Pages

Dari Tiada Menjadi Tiada

Hilang. Itulah kata yang sering ku temui saat ini. Satu demi satu orang-orang terkasih pergi tanpa pernah bisa dijumpai lagi. Jika mereka pergi ke salah satu peta dunia ini, mungkin ada masa aku bisa menemuinya. Namun mereka pergi ke tempat yang mustahil ku datangi. Tepatnya jika aku masih berada di dunia ini. Mereka sudah pulang. Beristirahat di tempat yang sedikit pun aku tak pernah tahu seperti apa tempat itu. Kini yang aku tahu, rumah mereka hanyalah gundukan demi gundukan tanah yang tertancap batu nisan di atasnya.

Dahulu mereka ada. Dahulu mereka tertawa disini. Dahulu segalanya terjadi disini. Namun waktu kemudian hanya menyisakan beribu-ribu lembar kenangan. Kenangan yang kini sering ku bolak-balik untuk mengingatnya. Mengingat segalanya tentang mereka. Mereka yang dahulu ada. Meski kini mereka tak berwujud, namun segala tentang mereka masih berwujud hingga kini. Meskipun hanya sebatas kenangan belaka. Ya, hanya kenangan yang kumiliki.
Dari tiada kembali menjadi tiada. Itulah yang ku pahami saat ini. Ya, bukan hanya mereka yang dahulu tiada. Aku, kau, kalian, kita semua dahulunya adalah sesuatu yang tiada. Lalu Allah menciptakan kita dari setetes air mani, menjadi segumpal darah, segumpal daging, lalu Allah membentuk kita, kemudian Dia memberikan kita kehidupan hingga kini. Hingga kau baca tulisan ini. Namun entah esok, lusa, atau kapanpun kita pasti akan tiada. Sebuah kepastian yang sedikitpun tak ada kuasa bagi kita untuk menolaknya. Hanya masalah kapan, dimana dan sebab yang menyebabkan kita tiada. Hingga kemudian, aku, kau, kalian dan kita semua akan menjadi tiada... seperti mereka...
Kehidupan memang lebih sunyi sekarang. Sesunyi rumah-rumah gundukan tanah itu. Namun, inilah kenyataan yang tak ada kuasa bagiku untuk menolaknya. Tak ada kekuatan untuk menyangkal takdirNya. Karena ini adalah fase kehidupan yang harus dilewati. Tidak peduli apapun yang aku rasakan saat ini, nyatanya takdir memang menuliskan demikian.
Jam dinding itu akan terus berputar. Tidak peduli apapun yang terjadi. Ia akan terus bergerak maju meninggalkan semua kenangan. Meninggalkan aku yang terduduk disini sendirian dengan dua pilihan; bergerak maju atau terus meratapi takdir. Berharap bertemu dengan Doraemon dan meminta mesin waktu agar aku kembali ke masa kecil. Masa saat belum merasakan “kehilangan”. Saat rumah ini penuh sesak dengan segala hal yang terjadi. Hingga waktu membuat kita semua tercerai-berai seperti butiran tasbih yang putus tali pengikatnya.
Di balik semua kepahitan ini. Nyatanya aku harus tetap bersyukur. Bersyukur atas nikmat kehidupan yang kini kurasakan. Nikmatnya menulis kalimat demi kalimat ini. Hingga nikmat iman yang masih melekat dalam hati. Karena sejatinya, segala kehidupan ini tak berarti tanpa iman. Nikmat itu pun kini menjelma menjadi keriuhan yang sering ku dengar saat ini. Ya, keriuhan yang sering disemburkan dari mulut bocah-bocah yang sama sekali belum mengerti rasa pahit kehidupan. Seperti aku dan kalian yang membaca ini. Namun mereka tak menyadari bahwa dari mereka lah aku memetik begitu banyak buah pelajaran kehidupan ini. Yaitu alangkah sia-sianya jika kehidupan terus menerus hanya dihiasi kesedihan, kegalauan, kegundahan, dan semua sikap yang memancing air mata untuk menetes. Lebih baik seperti bocah-bocah itu. Lebih sering mentertawai kehidupan dari pada meratapinya. Terkadang kehidupan memang layak diperlakukan seperti itu. Memandang kehidupan dengan polos. Sepolos-polosnya hati. Meski ketika sunyi menyergap, kesedihan itu kembali menyeruak.
Semua ini dahulunya pun tiada. Bukan hanya isi dunia, namun isi hati kita. Dahulu kita tidak senang, lalu menjadi senang, hingga kemudian senang itu menjadi tiada. Hingga waktu mengizinkan kita untuk bersedih. Hingga waktu pun melenyapkan sedih kita. Terus seperti itu. Hilang, muncul, hilang lagi. Silih berganti berubah. Hingga takdir menentukan kita menjadi tiada. Selama-lamanya. Karena semua ini berawal dari sesuatu yang tiada akan kembali menjadi tiada.
Semoga kita yang masih ada saat ini, mampu memanfaatkan keberadaan kita. Sebelum semuanya tiada. Termasuk diri kita sendiri. Karena satu detik pun kita tak pernah diperkenankan oleh kehidupan untuk mengintip takdirNya. Sejengkal dari langkah kita, kita takkan pernah tahu takdir seperti apa yang pantas untuk kita.
Manusia memang tidak ada yang sempurna. Namun denyut nadi selalu mengizinkan kita untuk berikhtiar menjadi lebih baik lagi. Meski takkan pernah sempurna. Paling tidak, ada hal buruk yang kita sesali, lalu menutupnya dengan sebuah kebaikan. Apapun kebaikan itu. Karena selagi kita masih ada segala kebaikan itu akan berguna hingga kita tiada. Semoga di sisa keberadaan kita saat ini, kita mampu memberikan kebaikan apapun yang kita mampu lakukan. Meski hanya seulas senyum di hadapan orang lain. Karena setitik kebaikan akan berguna selagi kita ada hingga kita semua tiada. Maafkan jika ada kalimatku yang terkesan menggurui kalian. Karena sesungguhnya aku pun masih perlu belajar tentang segala fase kehidupan yang belum ku mengerti. Belajar tentang arti sebuah kehilangan. Belajar tentang menghargai sebuah momen. Belajar memahami bahwa kita adalah sesuatu yang tiada akan kembali menjadi tiada.

0 komentar:

Poskan Komentar