Pages

Enam Belas Hari



          Sudah enam belas hari kuganti langit-langit hijau kamar menjadi sebuah bangunan berlantai dua yang penuh sesak bersama barisan orang-orang tak berdaya. Orang-orang itu seperti tengah berdemonstrasi dengan takdir. Mengaduh, menjerit, menangis, mengeluh, dan juga pasrah. Aku berjibaku bersama orang-orang itu. Melihat sejuta asa dan rasa. Merasakan beribu warna kehidupan. Aku seperti tenggelam bersama mereka. Kami seperti sekumpulan hamba-hamba yang tengah bergumul melawan keadaan antara sebuah cobaan, kasih sayang Tuhan, atau teguran karena kelalaian kami pada kehidupan.
          Kehidupan seperti tengah menunjukkan wujudnya padaku. Ia seakan berbisik pada hari-hariku, bahwa begitu pentingnya arti sebuah kehidupan ini. Meski hanya sebatas merasakan silaunya matahari yang menerobos melalui celah dedaunan atau merasakan kaki yang terlanjur basah oleh rumput yang sudah bermandikan embun sejak fajar belum menyingsing.
          Ku akui aku bukanlah Nabi dengan energi kesabaran di ambang batas manusia biasa. Terkadang aku rapuh laksana dedaunan kering yang tak berdaya melawan kemarau. aku pun dapat tumbang dihantam badai. Bersama sejuta hantaman petir dan badai, segalanya kusandarkan kekuatanku pada-Mu ya Allah. Karena hanya Kaulah satu-satunya tempat ku berteduh dari ganasnya kehidupan ini. Tegakkan kepalaku ya Allah. Seka air mataku dengan rahmatMu. Yakinkan aku bahwa hanya Kaulah yang abadi di dunia ini. Tak ada apapun yang abadi di dunia, termasuk segala kesenangan dan kesedihan di dunia ini.
          

Sebuah Deskripsi Tentang Kebahagiaan



bahagia
            Kebahagiaan identik dengan sesuatu hal yang menyenangkan. Karena itulah setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun kenyataannya tidak demikian. Tidak ada manusia yang selalu bahagia sepanjang hidupnya. Selalu ada duka yang melengkapi kebahagiaan itu sendiri. Sebagaimana Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sifat saling melengkapi. Ada siang ada juga malam, ada laki-laki ada juga perempuan, begitu pula ada suka ada juga duka, dan lain sebagainya.
            Kebahagiaan menurut saya sangat bersifat relatif. Yakni tergantung bagaimana orang menginterpretasikan atau menafsirkan arti dari kebahagiaan itu sendiri. Banyak orang berpendapat bahwa dengan berlimpahnya materi dan tingginya jabatan mampu membuat segelintir orang atau mungkin mayoritas orang bisa bahagia. Namun tidak sedikit orang yang berbahagia dengan kehidupannya yang sederhana. Jika mungkin menurut orang dengan kasta sosial di atas rata-rata, banyaknya digit angka di dalam rekening pribadinya menjadi parameter kebahagiaannya, karena dengan pundi-pundi yang berlimpah tersebut ia bisa memenuhi hasrat duniawinya tersebut.

Haji dan Peningkatan Spiritualitas Seorang Hamba



Ibadah Haji, tujuan ibadah haji
          Suatu ritual peribadatan dalam agama apapun senantiasa bermuara pada suatu tujuan yaitu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lebih jauh Islam menekankan bahwa suatu ibadah tidak hanya bernilai secara spiritual terhadap Tuhannya, namun dapat mencapai sektor sosial kemasyarakatan. Hal ini dapat terindikasi dari adanya perintah zakat sebagai bagian dari rukun Islam. Sebut saja tujuan itu adalah takwa. Sebagaimana diketahui bahwa takwa secara terminologi berarti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
            Salah satu ibadah yang kali ini sedikit dibicarakan adalah mengenai ibadah haji. Sebagai ibadah yang menempati posisi sebagai rukun Islam, haji menjadi suatu kewajiban bagi seseorang yang telah mampu secara lahir maupun batin, seperti kemampuan secara finansial juga kemampuan secara fisik. Tidak mudah memang untuk menggapai haji yang mabrur. Butuh biaya yang tidak sedikit, keharusan menempuh ribuan kilometer, dan dibutuhkan kondisi fisik yang prima. Tak ayal dalam ibadah jenis ini, tidak semua orang diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Karena itulah para jamaah haji disebut juga sebagai tamu Allah. Layaknya seperti seorang tamu udangan, maka hanya yang memiliki undangan itu sajalah yang dapat menjadi tamu Allah.

Implementasi Syukur Dalam Lingkup Ibadah Kurban



            Seorang hamba sudah selayaknya bersikap syukur atas segala nikmat yang ia peroleh. Nikmat sesungguhnya bukanlah dilihat berdasarkan materi semata. Barometer nikmat pun bukan hanya terletak dari banyaknya penghasilan yang kita peroleh. Karena tipologi nikmat mencakup beberapa lini kehidupan. Nikmat itu dapat berupa nikmat iman, nikmat sehat, nikmat ilmu, nikmat hidup, nikmat keamanan, nikmat kedamaian, dan lain sebagainya. Oleh karena itulah dengan perwujudan nikmat yang kian beragam tersebut, kita sangat dianjurkan untuk bersyukur atas apa yang melekat pada diri kita. Pantaslah kiranya jika Allah swt mengulang beberapa kali firman-Nya dalam surat ar-Rahman dengan bentuk pertanyaan yaitu “maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?”.
            Sikap syukur yang diimplementasikan dalam rona kehidupan sehari-hari, nyatanya akan mendapat “reward” atau “bonus” dari Allah berupa tambahan nikmat yang banyak. Namun kondisi itu berbalik jika hamba tersebut mengingkari nikmat Tuhannya, yaitu berupa adzab yang pedih. Bentuk kesyukuran seseorang sesungguhnya sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan tidak banyak mengeluh akan apa yang sudah kita dapatkan, atau mengisi kehidupan sebagai bagian dari nikmat dengan melakukan hal-hal positif, meski sifat alamiah manusia tetap memiliki resistensi untuk melakukan perbuatan negatif. Salah satu bentuk kesyukuran itu adalah dengan berkurban.