Seorang hamba sudah selayaknya
bersikap syukur atas segala nikmat yang ia peroleh. Nikmat sesungguhnya bukanlah
dilihat berdasarkan materi semata. Barometer nikmat pun bukan hanya terletak
dari banyaknya penghasilan yang kita peroleh. Karena tipologi nikmat mencakup beberapa
lini kehidupan. Nikmat itu dapat berupa nikmat iman, nikmat sehat, nikmat ilmu,
nikmat hidup, nikmat keamanan, nikmat kedamaian, dan lain sebagainya. Oleh karena
itulah dengan perwujudan nikmat yang kian beragam tersebut, kita sangat
dianjurkan untuk bersyukur atas apa yang melekat pada diri kita. Pantaslah
kiranya jika Allah swt mengulang beberapa kali firman-Nya dalam surat ar-Rahman
dengan bentuk pertanyaan yaitu “maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu
dustakan?”.
Sikap syukur yang diimplementasikan
dalam rona kehidupan sehari-hari, nyatanya akan mendapat “reward” atau “bonus”
dari Allah berupa tambahan nikmat yang banyak. Namun kondisi itu berbalik jika
hamba tersebut mengingkari nikmat Tuhannya, yaitu berupa adzab yang pedih. Bentuk
kesyukuran seseorang sesungguhnya sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan
misalnya dengan tidak banyak mengeluh akan apa yang sudah kita dapatkan, atau
mengisi kehidupan sebagai bagian dari nikmat dengan melakukan hal-hal positif,
meski sifat alamiah manusia tetap memiliki resistensi untuk melakukan perbuatan
negatif. Salah satu bentuk kesyukuran itu adalah dengan berkurban.





